Hari Pertama Sekolah Pascabanjir Hidrometeorologi Sumatera, Siswa MIN 21 Bireuen Berbagi Kisah Rumah Terendam dan Mengungsi
BIREUEN — Hari pertama sekolah 05 Januari 2026 setelah banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menjadi momen penuh cerita dan emosi bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 21 Bireuen, Aceh. Para siswa saling berbagi pengalaman tentang rumah yang terendam banjir, mengungsi beberapa hari di meunasah, hingga kondisi desa yang dipenuhi lumpur pascabanjir.

Banjir akibat intensitas hujan tinggi tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar. Meski sebagian wilayah di Kecamatan Jeumpa dan Peudada Kabupaten Bireuen tidak terdampak parah, pengalaman menghadapi banjir tetap membekas bagi anak-anak.
Suasana Hari Pertama Sekolah di MIN 21 Bireuen
Sejak pagi hari, suasana halaman MIN 21 Bireuen dipenuhi siswa yang kembali ke sekolah dengan seragam rapi. Guru-guru menyambut kedatangan siswa dengan hangat, menyadari bahwa sebagian dari mereka baru saja melewati masa sulit akibat banjir.
Di dalam kelas, kegiatan belajar tidak langsung difokuskan pada materi pelajaran. Guru memberi ruang kepada siswa untuk saling bercerita tentang pengalaman selama banjir melanda desa dan rumah mereka.
Kepala Madrasah: Fokus Pemulihan Emosi Siswa
Kepala MIN 21 Bireuen menyampaikan bahwa hari pertama sekolah dimanfaatkan sebagai momentum pemulihan emosional siswa.
“Hari ini kami tidak langsung fokus pada target pembelajaran. Kami mengadakan dzikir, membaca al-quran lima belas menit (limit) dan memberi ruang kepada anak-anak untuk bercerita dan menenangkan diri terlebih dahulu setelah mengalami situasi banjir,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun sebagian besar siswa madrasah berasal dari wilayah yang tidak terdampak parah (Kec. Jeumpa dan sebagian Kec. Peudada), kondisi psikologis anak tetap perlu diperhatikan.
“Ada siswa yang rumahnya terendam, ada yang mengungsi, dan ada juga yang hanya melihat dampak banjir di sekitar desa. Semua itu tetap mempengaruhi mereka,” katanya.
Dampak Banjir Hidrometeorologi di Kabupaten Bireuen
Banjir hidrometeorologi yang terjadi di Sumatera disebabkan oleh curah hujan tinggi yang berlangsung dalam beberapa hari. Di Kecamatan Jeumpa dan sebagian Kecamatan Peudada Kabupaten Bireuen tanggal 26-27 November 2025, air menggenangi permukiman warga dengan ketinggian bervariasi, bahkan mencapai lebih 1 meter di beberapa desa.
Banjir tersebut merendam rumah, pekarangan, serta fasilitas umum. Aktivitas warga sempat lumpuh, termasuk akses ke sekolah yang menyebabkan kegiatan belajar mengajar diliburkan sementara.
Cerita Siswa: Rumah Terendam dan Mengungsi di Meunasah
Pada sesi berbagi cerita di kelas, para siswa menceritakan pengalaman mereka saat banjir terjadi. Sebagian siswa harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke meunasah selama beberapa hari.
Meunasah menjadi tempat perlindungan sementara bagi warga. Anak-anak tidur bersama keluarga dan tetangga, sementara orang dewasa bergotong royong mengatur kebutuhan logistik.
Guru: Anak-anak Perlu Didengar
Salah seorang guru kelas di MIN 21 Bireuen mengatakan bahwa mendengarkan cerita siswa menjadi langkah penting pada hari pertama sekolah.
“Kami mulai pelajaran dengan mendengarkan cerita mereka. Banyak yang bercerita air masuk ke rumah, lumpur sulit dibersihkan, hingga tidur di meunasah,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan ini membantu siswa lebih siap mengikuti pelajaran.
“Dengan berbagi cerita, anak-anak merasa lebih tenang dan didengar,” jelasnya.
Lumpur Pascabanjir dan Gotong Royong Warga
Setelah air surut, warga dihadapkan pada lumpur yang menumpuk di dalam dan sekitar rumah. Para siswa juga turut membantu orang tua membersihkan rumah dari sisa-sisa lumpur.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran nyata tentang gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Wilayah Jeumpa dan Peudada Relatif Tidak Parah
Sebagian besar siswa MIN 21 Bireuen berasal dari Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Peudada. Berdasarkan pengakuan siswa dan pihak sekolah, kedua wilayah tersebut tidak mengalami dampak banjir yang terlalu parah.
Meski demikian, hujan deras tetap menimbulkan genangan di beberapa titik dan menimbulkan kekhawatiran bagi warga.
Pendidikan dan Mitigasi Bencana Sejak Dini
Peristiwa banjir hidrometeorologi ini menjadi pengingat pentingnya edukasi mitigasi bencana sejak dini. Sekolah berencana memasukkan materi kesiapsiagaan bencana dalam pembelajaran.
Anak-anak diharapkan memahami langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Wali Murid: Sekolah Membantu Anak Kembali Normal
Salah seorang wali murid mengaku bersyukur sekolah kembali dibuka dan memahami kondisi siswa.
“Anak saya sempat mengungsi beberapa hari di meunasah karena rumah terendam. Setelah madrasah dibuka, dia terlihat lebih semangat,” katanya.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membantu pemulihan mental anak.
“Kami berharap madrasah tidak hanya mengajar pelajaran, tapi juga membantu anak-anak pulih secara mental,” ujarnya.
Penutup
Hari pertama sekolah pascabanjir hidrometeorologi di MIN 21 Bireuen menjadi momen penting bagi siswa untuk kembali ke rutinitas dan saling berbagi pengalaman. Cerita tentang rumah terendam, mengungsi di meunasah, dan lumpur pascabanjir mencerminkan dampak nyata bencana alam terhadap kehidupan anak-anak.
Dengan pendekatan humanis dan edukatif, sekolah berupaya menjadi ruang aman dan pemulihan bagi siswa. Pengalaman ini diharapkan menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
Penulis: Redaksi
Belum ada Komentar untuk "Hari Pertama Sekolah Pascabanjir Hidrometeorologi Sumatera, Siswa MIN 21 Bireuen Berbagi Kisah Rumah Terendam dan Mengungsi"
Posting Komentar