Literasi: Jejak Cahaya di Atas Lumpur
Sebuah Kisah Fiksi Ilmiah Pasca Banjir Bandang Aceh dan Sumatera 2025
Bab 1: Hujan yang Tidak Pernah Sama
Hujan selalu menjadi bagian dari hidup orang Aceh dan Sumatera. Sejak dulu, hujan datang dan pergi seperti tamu yang sopan—kadang lama, kadang singkat, tapi jarang membawa luka. Namun hujan di akhir November 2025 berbeda. Ia turun tanpa jeda, tanpa irama, seolah langit lupa cara berhenti menangis.

Di Desa Lhok Seulimeum, Aceh, Aira berdiri di depan jendela rumah panggungnya. Usianya baru dua belas tahun, namun matanya memantulkan kegelisahan orang dewasa. Tablet kecil di tangannya menampilkan grafik curah hujan yang terus menanjak.
“Ini sudah melewati ambang normal,” gumamnya.
Tablet itu bukan tablet biasa. Aira merakitnya sendiri dari komponen bekas: sensor cuaca, modul AI sederhana, dan koneksi jaringan komunitas yang disebut JALA-NET, sistem komunikasi mandiri yang dikembangkan warga sejak sinyal sering terputus.
Di layar, notifikasi merah berkedip:
PERINGATAN DINI: POTENSI BANJIR BANDANG TINGGI
Aira berlari keluar.
“Abi! Ummi! Air sungai naik cepat!”
Ayahnya, seorang guru IPA, segera mengaktifkan radio darurat. Suara dari berbagai desa saling bertumpuk—panik, bingung, dan takut. Dalam hitungan jam, hujan berubah menjadi teror.
Ketika tanggul alami jebol, air bercampur lumpur dan batang kayu meluncur seperti monster tak terlihat. Malam itu, Aceh dan sebagian besar Sumatera berubah.
Bab 2: Dunia yang Terendam
Banjir bandang tidak hanya merobohkan rumah. Ia merobohkan rutinitas, harapan, dan rasa aman.
Sekolah Aira—MIN kecil di tepi desa—lenyap separuh. Buku-buku mengapung, papan tulis terbalik, dan halaman berubah menjadi lautan cokelat. Arsip nilai, daftar absen, dan komputer sekolah terkubur lumpur.
Namun yang paling menyakitkan adalah hilangnya jaringan. Internet mati. Listrik padam. Dunia terasa mengecil menjadi sekadar apa yang bisa dilihat mata.
Di Kota Medan, ratusan kilometer jauhnya, seorang mahasiswa teknik informatika bernama Raka menatap layar gelap laptopnya. Usianya dua puluh satu tahun, rambutnya selalu berantakan, dan pikirannya jarang istirahat.
“Server komunitas Aceh offline,” katanya pada dirinya sendiri.
Raka adalah anggota CIVIS-TECH, jaringan sukarelawan teknologi independen yang memantau bencana berbasis data satelit, AI iklim, dan pemodelan hidrologi.
Ia membuka terminal cadangan.
ACCESSING ORBITAL DATA NODE...CONNECTION: UNSTABLE
“Kalau data ini benar,” bisiknya, “banjir ini bukan kebetulan.”
Bab 3: Algoritma yang Terlambat
Beberapa bulan sebelum banjir, sistem prediksi iklim nasional sebenarnya sudah mengeluarkan peringatan. Namun peringatan itu terkubur di antara laporan-laporan panjang, grafik rumit, dan rapat tanpa akhir.
Di Jakarta, server pusat iklim memproses jutaan data per detik: suhu laut, deforestasi, tekanan udara, dan emisi karbon.
Masalahnya bukan pada teknologi.
Masalahnya pada keputusan manusia.
Raka menemukan anomali dalam data historis.
“Curah hujan ekstrem ini diperkuat oleh perubahan tutupan hutan,” katanya dalam forum CIVIS-TECH.
Namun kini semua itu terlambat. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: Bagaimana menyelamatkan masa depan dari puing-puing masa lalu?
Bab 4: Sekolah di Bawah Tenda
Tiga minggu setelah banjir, Aira duduk di bawah tenda darurat yang berfungsi sebagai sekolah sementara.
Guru-guru datang lebih pagi, pulang paling akhir.
“Apa pelajaran hari ini, Bu?” tanya Aira.
“Ilmu pengetahuan dan harapan,” jawab gurunya.
Aira mengeluarkan tablet rakitannya dan menunjukkan data sekolah yang berhasil diselamatkan.
“Kamu menyelamatkan masa depan,” kata sang guru dengan mata berkaca-kaca.

Bab 5: Kota yang Menyala di Tengah Gelap
Di sudut Medan, bengkel-bengkel kecil dipenuhi cahaya neon. Anak muda merakit drone, panel surya, dan server mini.
“Kita buat Node Cahaya,” kata Raka. “Teknologi harus bisa dipakai semua usia.”
Bab 6: Ketika Cahaya Menyentuh Aceh
Drone mendarat di lapangan desa. Anak-anak bersorak.
Internet kembali—bukan untuk hiburan, tetapi untuk belajar dan membangun ulang.
Bab 7: AI Lumpur
Aira mengembangkan AI Lumpur, sistem sederhana pemantauan banjir berbasis data warga.
Ilmu pengetahuan turun ke tanah berlumpur.
Bab 8: Masa Lalu yang Menghantui
Banjir mengajarkan Aira satu hal: teknologi tanpa empati hanyalah mesin kosong.
Bab 9: Kota Masa Depan yang Rendah Hati
Lima tahun kemudian, Aceh dan Sumatera membangun kota yang cerdas dan ramah alam.
“Banjir bukan musuh,” kata Aira, kini mahasiswa. “Ia pesan.”
Bab 10: Jejak Cahaya
Di atas tanah yang pernah tertutup lumpur, cahaya kecil menyala.
Tidak silau. Tidak sombong.
Cukup terang untuk menunjukkan jalan.
TAMAT
Penulis: Muntadhar
Belum ada Komentar untuk "Literasi: Jejak Cahaya di Atas Lumpur"
Posting Komentar